You are here:RSIJCP/Web/Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih - Web
0

Banyak penyakit saluran kemih memerlukan operasi endoskopi.Ini termasuk batu ginjal, obstruksi persimpangan ureteropelvic,striktur ureter, tumor dalam sistem pengumpulan ginjal, ureter,dan untuk meringankan penyumbatan di ginjal karena berbagai alasan.

Ada dua pendekatan utama untuk operasi endoskopi.Pendekatan pertama adalah dari mode "mundur". Ini berartipendekatan dari bagian bawah saluran kemih atas. Pasienditempatkan untuk tidur. Kaki yang bersandar di sanggurdi.Menggunakan lingkup serat optik (ureteroscope) yang terhubung ke kamera, ahli bedah menonton sebuah monitor televisi sebagai ruang lingkup dimasukkan ke dalam kandung kemih,kemudian maju menjadi salah satu ureter. Seringkali fluoroskopi,atau real-time x-ray, digunakan untuk memandu kursus.Tergantung pada penyakit dalam ureter, suatu tabung plastik, yang disebut stent, dapat dilewatkan ke dalam ureter untuk menghubungkan ginjal dengan kandung kemih. Ini digunakanuntuk memotong setiap batu, striktur, atau penyumbatan ureterdalam rangka untuk mengalirkan urin. Seringkali, ahli bedah dapat menggunakan laser untuk memecah batu atau striktur

0

Uroflowmetri adalah pemeriksaan untuk mengetahui kekencangan aliran kencing untuk mendeteksi adanya Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat.

0

ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) merupakan terapi non-invasif, karena tidak memerlukan pembedahan atau pemasukan alat kedalam tubuh pasien.Sesuai dengan namanya, Extracorporeal berarti diluar tubuh, sedangkan Lithotripsy berarti penghancuran batu, secara harfiah ESWL memiliki arti penghancuran batu saluran kemih dengan menggunakan gelombang kejut (shock wave)yang ditransmisi dari luar tubuh.
eswl

Kapan ESWL Dilakukan ?

  • Batu ginjal berukuran dari 5 mm hingga 20 mm. Batu yang berukuran lebih besar kadang memerlukan pemasangan stent (sejenis selang kecil) sebelum tindakan ESWL untuk memperlancar aliran air seni.
  • Batu ureter berukuran 5 mm hingga 10 mm.
  • Fungsi ginjal masih baik.
  • Tidak ada sumbatan distal (di bagian bawah saluran) dari batu.
  • Tidak ada kelainan pembekuan darah.
  • Tidak sedang hamil.


Keuntungan ESWL

  • Dapat menghindari operasi terbuka.
  • Lebih aman, efektif, dan biaya lebih murah.
  • Bisa rawat jalan (batu kecil).
0

USG Colour Doppler adalah teknik pemeriksaan USG yang menggabungkan informasi gambar anatomi jaringan dengan B-mode gray scale dan aliran darah dengan kode colour secara dua dimensi terhadap waktu (real time). Disini colour ditampilkan dalam warna, saturasi, dan kecerahan untuk memperlihatkan ada tidak, arah, kecepatan, dan tipe aliran darah. Penguasaan prinsip dasar Doppler, hemodinamika, dan instrumentasi mutlak diperlukan untuk dapat menghasilkan informasi anatomik dan fisiologik yang kuat.

Prinsip USG Colour Doppler / Efek Doppler

Adalah perubahan panjang gelombang atau frekuwensi dari suara akibat pergerakan sumber, penerima atau reflektor suara.
Dalam USG kedokteran, sumber dan penerima ultrasound adalah transducer yang bersifat stasioner, sedangkan sel darah terutama sel darah merah dalam aliran darah merupakan reflektor yang bergerak.
Perubahan frekuensi antara pulsa Ultrasound yang dipancarkan dan diterima (Doppler Shift) tergantung pada kecepatan aliran darah, arah aliran relatif terhadap berkas ultrasound, dan kecepatan gelombang suara.

Instrumen Colour Doppler

Terdapat 3 jenis instrument coluor doppler : Continous-wave Doppler (CW), Pulse-duplex Doppler (PD / PW), dan Colour Doppler.
Instrumen CW dan PD/PW memberikan informasi doppler aliran darah dari satu volume sample   Pada instrument CW, volume sample ini relative besar, terdiri dari daerah tumpang tindih berkas Ultrasound yang dipancarkan dan diterima transducer. Pada instrument PD, ukuran dan posisi sample volume dapat disesuaikan dan cukup kecil kurang lebih 1 - 2 mm. Kedua instrument ini mempresentasikan informasi Doppler dalam bentuk suara dan spektrum pada layar monitor. Pada instrument colour doppler, informasi colour doppler didapatkan dari banyak lokasi dalam kotak atau jendela colour dan dipresentasikan secara dua dimensi terhadap waktu.

Peralihan warna dari merah ke biru  atau sebaliknya menunjukan aliran terbalik (refesrsed flow) atau aliasing. Aliasing adalah artefak akibat sample doppler shift terlalu tinggi atau frekuensi smple / pulse repetition frequensi (PRF) terlalu rendah. Bila pada spektrum doppler, aliasing menyebabkan pada arah yang tidak tepat, maka pada colour doppler presentasi warna dari arah yang berlawanan. Karena aliasing terjadi bila pergeseran frekuensi doppler melebihi setengah PRF maka aliasing colour doppler dapat dikoreksi atau dihilangkan dengan menambah PRF atau menggeser posisi base line. Disini terlihat, kecepatan maksimum pada kedua ujung colour bar yang merupakan pergeseran frekuensi doppler maksimum sama dengan setengah PRF, ini dinamakan  Nyquist limit.

Untuk membedakan aliran terbalik dengan aliasing, perlu diperhatikan dengan seksama batas pada perubahan warna. Aliran darah terbalik menyilang baseline melalui wall filter sehingga mempunyai batas peralihan yang hitam, sedangkan aliasing mempunyai batas peralihan yang cerah, putih atau berwarna sesuai dengan ujung colour bar.

Kontrol dan Optimasi Colour Doppler
Kontrol dan optimasi alat colour doppler merupakan hal yang sangat penting dan harus dikuasai sepenuhnya sebelum melakukan pemeriksaan. Kontrol utama untuk optimasi colour doppler adalah : Frekuensi transducer, colour bar, kotak colour, sudut doppler, colour gain, power output, PRF, Baseline shift, wall filter, ensemble length, grayscale/colour priority, dan peristance.

Frekuensi transducer

Pemilihan frekuensi transducer merupakan keputusan yang sangat penting dalam melakukan pemeriksaan colour doppler. Dari persamaan Doppler diatas, terlihat bahwa nilai Doppler shift sebanding dengan frekuensi yang dipancarkan, sehingga makin tinggi frekuensi transducer semakin tinggi nilai doppler shift.

Colour Bar

Pemilihan colour bar/ map tergantung pada kesenangan operator dan informasi yang ingin ditampilkan. Colour map dengan variance terutama digunakan untuk ekhocardiography untuk mendeteksi aliran turbulance.  

Kotak Colour dan Sudut Doppler

Ukuran, posisi dan sudut kotak colour dapat dirubah sesuai dengan keperluan. Ukuran yang besar dan posisi yang dalam dapat menyebabkan frame rate lebih lambat. Hal ini disebabkan ukuran kotak colour yang besar menyebabkan jumlah garis sken bertambah, dan posisi yang lebih dalam akan membatasi PRF karena waktu yang diperlukan untuk memancarkan dan menerima echo doppler lebih lama. Sudut doppler diusahakan kurang dari 60 derajat.

Colour Gain

Colour gain mempengaruhi amplifikasi penerimaan sinyal colour Doppler. Gain ini harus disesuaikan sehingga informasi aliran darah terlihat berasal dari pergerakan sel darah bukan dari jaringan stasioner.

PRF

PRF terutama mempengaruhi sensitivitas Doppler dan aliasing. Pada instrumen colour doppler, perubahan PRF umumnya dilakukan dengan merubah skala doppler atau velocity range. Efek ini selalu diperhatikan ketika memeriksa aliran vena yang lambat, atau aliran diastolik arteri.

Base Line

Pergeseran baseline digunakan untuk menghindari aliasing tanpa merubah PRF atau sensitivitas Doppler.

0

Sebagai alat deteksi kanker leher rahim. Alat ini tidak banyak dijumpai di Bali khususnya di Denpasar, tetapi di Rumah Sakit Surya Husadha telah menyiapkan alat ini sebagai bentuk komitmen rumah sakit untuk mempersiapkan pelayanan yang komprehensip disamping menunjang program pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu oleh karena kanker leher rahim ini.

Kanker leher rahim merupakan salah satu masalah kesehatan perempuan, khususnya dinegara berkembang seperti di Indonesia. Insiden penyakit ini dimasyarakat cukup tinggi dan data dari beberapa rumah sakit di Indonesia bahwa kanker leher rahim merupakan keganasan yang paling sering atau paling tinggi diantara penyakit keganasan pada perempuan, kemudian disusul keganasan pada payudara dan indung telur / ovarium. Selain kejadiannya tinggi, masalah lain adalah bahwa hampir 70% kasus datang ke rumah sakit sudah dalam keadaan stadium lanjut, hal ini disebabkan karena pada stadium dini tidak terjadi keluhan yang spesifik, mungkin hanya sering keputihan atau flek pada saat hubungan badan. Pada stadium lanjut, efektivitas pengobatan yang lengkap sekalipun, hasilnya belum memuaskan dan mortalitas/ kematiannya yang diakibatkannya tingi. Boleh dikatakan penyakit ini merupakan penyakit keganasan yang tidak bisa disembuhkan bila ditemukan sudah pada stadium lanjut. Bagaimana bila ditemukan pada stadium dini, penyakit ini tentu akan bisa diobati dengan baik dengan menggunakan  beberapa modalitas terapi bahkan bisa disembuhkan secara total. Kanker leher rahim pada stadium dini ini sebagian besar tidak memberi gejala atau keluhan, dan kadang-kadang hanya keputihan berulang atau flek / perdarahan diluar menstruasi.

Hal yang paling penting untuk mengatasi penyakit ini adalah bagaimana menemukannya pada stadium dini.  Salah satu cara yang paling baik, aman dan cukup efektif adalah dengan melakukan pap smear secara berkala. Dengan melakukan papsmear berkala perubahan sel epitel leher rahim sebelum menjadi ganas bisa diketahui, sehingga pencegahan dan pengobatannya sangat efektif. Perlu diketahui bahwa perjalanan kanker leher rahim dari perubahan sel abnormal sampai menjadi ganas memerlukan waktu yang cukup lama ( belasan tahun ). Di beberapa Negara maju, skrining kanker leher rahim dengan tes papsmear secara luas terbukti mampu menurunkan angka kejadian kanker leher rahim hingga 90% dan menurunkan angka kematian hingga 70-80%. Keberhasilan ini diraih berkat kemampuan pemeriksaan skrining papsmear yang mengenali adanya lesi prakanker pada leher rahim.   Bila dalam pemeriksaan pap smear didapatkan kelainan pada serviks atau leher rahim maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut  dengan menggunakan suatu alat KOLPOSKOPI.. Kolposkopi merupakan alat yang dirancang sedemikian rupa hingga memungkinkan mendapatkan pembesaran gambaran suatu obyek, dalam hal ini adalah leher rahim, termasuk juga mendapatkan tampilan vagina dan alat kelamin luar. Dengan pembesaran gambaran pada leher rahim tadi maka dengan tuntunan kolposkopi ini maka seorang dokter dapat lebih yakin memilih dan mengambil jaringan yang ditemukan kelainan tadi untuk diperiksakan ke laboratorium guna memperjelas penyakitnya ( kepentingan diagnostik). Alat ini tidak banyak dijumpai di Bali khususnya di Denpasar, tetapi di Rumah Sakit Surya Husadha telah menyiapkan alat ini sebagai bentuk komitmen rumah sakit untuk mempersiapkan pelayanan yang komprehensip disamping menunjang program pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu oleh karena kanker leher rahim ini.

Jadi kanker leher rahim adalah suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan pada stadium lanjut tetapi bila dijumpa pada stadium dini dapat disembuhkan secara total. Pap smear dan kolposkopi merupakan alat deteksi yang cukup aman dan efektif dalam mencegah kanker leher rahim. Bagamanapun mencegah lebih baik dari pengobatan

0

ERCP (Endoscopic retrograde cholangio pancreatografi) merupakan sarana diagnostik dan terapeutik. Dengan ERCP dilakukan sphinterektomi ampula vateri diikuti ekstraksi batu dengan basket Dormia atau kateter balon. Bila sulit dikeluarkan dilakukan pemecahan batu dahulu secara mekanik (litotripsi mekanik)

0

Kolonoskopi, suatu alat yang digunakan untuk memeriksa organ di dalam badan secara visual. Caranya mengintip melalui alat tersebut, sehinga dapat dilihat sejelas-jelasnya setiap kelainan yang ada pada organ yang diperiksa. Alat tersebut bukan hanya sebagai sarana diagnostik saja, melainkan juga dimanfaatkan untuk terapi misalnya untuk mengambil polip.

Laporan penelitian dari Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan lebih dari 95% kanker kolon berasal dari polip adematous yang tumbuh secara perlahan-lahan. Dengan kemajuan pesat dibidang kolonoskopi dan barium enema kontras ganda, maka polip kecil (ukuran lebih kecil 5 mm) telah dapat dideteksi. Sudah diketahui polip tertentu mempunyai risiko untuk menjadi ganas di kolon. Faktornya adalah jenis histologi dari polip tersebut (adenoma, vilosa), besarnya polip dan derajat displasinya.

Umpamanya polip adenomatosa dengan ukuran 1-2 cm mempunyai risiko keganasan sebanyak 10%, dan bila ukurannya lebih besar 2 cm, maka risikonya menjadi 46%. Sebaliknya pada papiloma vilosa bila ukuran polip 1-2 cm, risiko keganasan sebanyak 26% dan menjadi 60% bila ukurannya lebih besar 2 cm. Polip dengan ukuran kurang 5 mm belum banyak diketahui, menurut para peneliti luar negeri didapati 49,2% dan polip kecil ini termasuk neoplastik (polip), sehingga mempunyai risiko juga untuk menjadi sutu keganasan di kemudian hari.

Jenis polip ini dapat dideteksi dengan kolonoskopi dan bila ada indikasi dilakukan polipektomi. Bila belum dilakukan polipektomi atau bila ada kontraindikasi perlu dilakukan biopsi untuk menentukan sikap dalam penanggulangan selanjutnya. Bila polip masih kecil tentu belum menyebabkan keluhan dan gejala pada penderita. Pada papiloma vilosa bisa dikeluhkan penderita ketika buang air besar banyak mengeluarkan lendir, dan kadang-kadang bercampur darah.

Pada polip adenomatosa, bila sudah besar dapat mempunyai keluhan kejang perut bagian bawah dan tinja bercampur lendir serta darah. Pada suatu keganasan (karsinoma) keluhan tergantung pada besarnya, lamanya dan staging dari kanker tersebut. Badan dapat menjadi kurus, kejang perut bagian bawah, perubahan kebiasaan buang air besar, mencret dengan tinja berdarah campur lendir, atau sulit untuk buang air besar.

Pada karsinoma di daerah sekum (usus besar bagian pangkal) dan kolon asenden gejala stadium terakhirnya karena lumen kolon relatif besar, tetapi terjadi anemia karena perdarahan samar. Sebaliknya pada kanker di daerah rektosigmoid gejala obstruksi cepat terjadi mengingat lumen sigmoid (bagian usus besar yang berbentuk huruf S) tersebut sempit.

Pemeriksaan Kolonoskopi

Apabila endoskopist telah terbiasa melihat gambaran normal kolon tentu mudah menemukan kelainan di daerah kolon. Tetapi tidaklah selamanya demikian mudahnya memperoleh kesimpulan dari apa yang terlihat. Bila kolonoskop terlalu dekat ke lesi yang diperiksa maka tidak dapat dilihat dengan jelas, sedangkan bila kolonoskop terlalu jauh, kelainan kecil tidak terdeteksi.

Bila ditemukan kelainan yang tidak teratur, maka harus diusahakan melihat dari berbagai jarak. Perlu dibuat beberapa foto dan dibuat satu foto yang memperlihatkan keseluruhan lesi tersebut. Lesi yang terlihat tidak selamanya mudah diinterprestasi secara tepat. Hal ini tergantung/dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti, beratnya penyakit, derajatnya, medikasi, saat dilakukan pemeriksaan dan adanya kelainan ikutan yang lain.

Pada kolonoskopi kelainan yang dilihat dibagi berdasarkan gambaran makroskopik. Bila tidak ada penonjolan atau ulkus, maka pengamatan kolonoskopi ditujukan pada kelainan warna, bentuk permukaan dan gambaran pembuluh darahnya. Bila ditemukan kelainan yang merupakan penonjolan (polipoid) maka diperlukan pemeriksaan histologi. Bila ditemukan gambaran lesi depresif saja maka suatu neoplasma sudah hampir dapat disingkirkan karena lesi neoplastik di kolon selalu menonjol, namun begitu masih perlu biopsi untuk pastinya.

Kolonoskopi dengan polipektomi sebaiknya dilakukan di rumah sakit pada penderita dengan rawat inap. Tetapi di negara-negara maju dilakukan pada penderita rawat jalan saja. Norfleet RG memperoleh hasil pada 594 orang penderita rawat jalan ketika dilakukan kolonoskopi atau polipektomi tanpa ada kematian dan komplikasi yang terjadi sama saja seperti pada tindakan rawat inap.

Tindakan kolonoskopi dan polipektomi ini pada umumnya aman di tangan endoskopis berpengalaman dan hanya dengan komplikasi yang dapat diatasi segera. Juga kolonoskopi ini diperlukan untuk menentukan asal usul perdarahan di daerah kolon. Biasanya polip Adenoma ini mempunyai tangkai dan permukaan licin. Tetapi bila polip makin besar, permukaannya dapat tidak teratur lagi. Perlu dilakukan biopsi.

Tumor dengan ukuran 4 cm masih dapat dilakukan polipektomi dengan kolonoskopi. Multipel polip mempunyai kecenderungan keganasan. Secara kolonoskopi bisa suatu polip diduga masih tumor jinak, tetapi biopsi menunjukkan keganasan. Sehingga perlu dilakukan tindakan operasi. Pada inflamatory polip, bisa didapati polip kecil-kecil yang tidak sama ukurannya, dan didapatkan gambaran peradangan (kolitis ulseratif/radang usus, tbc, Crohn).

Polip vilosa biasanya berbentuk trapesium dan tidak bertangkai. Tumor terlihat terduduk di permukaan kolon, tanpa ada ulserasi atau depresi. Permukaannya mempunyai nodul yang tidak teratur dan sedikit hiperemis. Karena tumor ini mempunyai risiko tinggi menjadi tumor ganas perlu dilakukan tindakan operasi untuk reseksi segmental.

Persiapan pasien

  • Pasien atau keluarga membawa surat permintaan pemeriksaan dari dokter umum atau dokter spesialis dan diberikan kepada petugas pendaftaran radiologi
  • Petugas pendaftaran cek kelengkapan data pasien dan pemeriksaan yang diminta.
  • Petugas administrasi menjelaskan persiapan pemeriksaan, persyaratan administrasi dan jadwal pengambilan hasil rontgen.
  • Petugas Administrasi radiologi melakukan pendaftaran dengan memberikan nomor urut pendaftaran sesuai jenis pemeriksaan
  • Pasien diberitahu tentang besarnya biaya pemeriksaan, jika setuju petugas pendafaran akan memasukkan data pasien ke dalam program billing dan manual serta memasukkan transaksinya
  • (Dalam perawatan) sebelum pemeriksaan kolonoskopi , pasien dianjurkan diet cair /bubur kecap selama 1 hari , minum banyak 3-4 liter/hari, malam hari diberi obat pencahar , dan pagi hari 2 jam sebelum pemeriksaan diberi Yall solution, Fosen, atau Flet enema .
  •  Pemeriksaan laboratorium ( HB,HT,Lecosit,Trombosit, BT,CT, PT.APTT )
  • Pasien umur diatas 40 tahun sebaiknya dilakukan rekam jantung ( EKG )
  • Informed consent / persetujuan sebelum tindakan
  • Bila pemeriksaan dengan Anestesi konsul dokter anestesi

Telepon Radiologi : 

  • +62-21 425-0451
  • +62-21 428-01567
    Ext : 321 dan 323

 

0

Perdarahan varises gastroesofageal adalah sebuah komplikasi mayor hipertensi portal akibat sirosis dengan angka kejadian 10-30% dari seluruh perdarahan saluran cerna bagian atas).

Perdarahan varises berhubungan dengan kesakitan dan kematian yang lebih substansial daripada penyebab perdarahan lain dengan biaya RS yang lebih tinggi. Lebih dari 30% episode perdarahan awal bersifat fatal dan 70% yang selamat akan mengalami perdarahan ulang. Selain itu angka keselamatan setahun setelah perdarahan varises dapat buruk (32-80%).

Esophagogastroduodenoscopy (EGD) adalah pemeriksaan lapisan dari esofagus, lambung, dan duodenum atas dengankamera kecil (endoskopi fleksibel) yang dimasukkan ke dalam tenggorokan.

Anda akan diberi obat penenang dan analgesik (penghilang rasa sakit). Anda harus merasa sakit dan tidak ingat prosedur.Anestesi lokal dapat disemprotkan ke dalam mulut Anda untuk menekan kebutuhan untuk batuk atau muntah saat endoskopidimasukkan. Seorang penjaga mulut akan dimasukkan untuk melindungi gigi dan endoskopi. Gigi palsu harus dibuang.

Dalam kebanyakan kasus, sebuah jalur intravena akan dimasukkan ke dalam lengan Anda untuk memberikan obat-obatan selama prosedur.

Anda akan diminta untuk berbaring pada sisi kiri Anda.

Setelah obat penenang telah mengambil efek:

Endoskopi adalah maju melalui esophagus (pipa makanan) ke lambung dan duodenum. Udara diperkenalkan melalui endoskopiuntuk meningkatkan tampilan.
Lapisan duodenum esofagus, lambung, dan atas diperiksa, dan biopsi dapat diambil melalui endoskopi. Biopsi sampel jaringanyang terakhir di bawah mikroskop.
Perlakuan yang berbeda dapat dilakukan, seperti pereganganatau pelebaran area penyempitan kerongkongan.
Setelah tes ini selesai, makanan dan cairan akan dibatasisampai kembali gag refleks Anda (sehingga Anda tidaktersedak).

Tes berlangsung sekitar 5 sampai 20 menit.

0

Pencitraan resonansi magnetik (bahasa Inggris: Magnetic Resonance Imaging, MRI) ialah gambaran potongan cara singkat badan yang diambil dengan menggunakan daya magnet yang kuat mengelilingi anggota badan tersebut. Berbeda dengan "CT scan", MRI tidak memberikan rasa sakit akibat radiasi karena tidak digunakannya sinar-X dalam proses tersebut.

Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan suatu teknik yang digunakan untuk menghasilkan gambar organ dalam pada organisme hidup dan juga untuk menemukan jumlah kandungan air dalam struktur geologi. Biasa digunakan untuk menggambarkan secara patologi atau perubahan fisiologi otot hidup dan juga memperkirakan ketelusan batu kepada hidrokarbon.

Cara kerja MRI

  1. Pertama, putaran nukleus atom molekul otot diselarikan dengan menggunakan medan magnet yang berkekuatan tinggi.
  2. Kemudian, denyutan/pulsa frekuensi radio dikenakan pada tingkat menegak kepada garis medan magnet agar sebagian nuklei hidrogen bertukar arah.
  3. Selepas itu, frekuensi radio akan dimatikan menyebabkan nuklei berganti pada konfigurasi awal. Ketika ini terjadi, tenaga frekuensi radio dibebaskan yang dapat ditemukan oleh gegelung yang mengelilingi pasien.
  4. Sinyal ini dicatat dan data yang dihasilkan diproses oleh komputer untuk menghasilkan gambar otot.

Dengan ini, ciri-ciri anatomi yang jelas dapat dihasilkan. Pada pengobatan, MRI digunakan untuk membedakan otot patologi seperti tumur otak dibandingkan otot normal.

Teknik ini bergantung kepada ciri tenang nuklei hidrogen yang dirangsang menggunakan magnet dalam air. Bahan contoh ditunjukkan seketika pada tenaga radio frekuensi, yang dengan kehadiran medan megnet, membuatkan nuklei dalam keadaan bertenaga tinggi. Ketika molekul kembali menurun kepada normal, tenaga akan dibebaskan ke sekitarnya, melalui proses yang dikenal sebagai relaksasi. Molekul bebas menurun pada ambang normal, tenang lebih pantas. Perbedaan antara kadar tenang merupakan asas gambar MRI--sebagai contoh, molekul air dalam darah bebas untuk tenang lebih pantas, dengan itu, tenang pada kadar berbeda berbanding molekul air dalam otot lain.

Penamaan MRI

Walaupun perilaku nuklir atomik terhadap contoh adalah hal terpenting bagi teknik ini, akan tetapi penggunaan istilah nuklir dihindari. Hal ini dilakukan agar tidak menimbulkan kebingungan maupun kekhawatiran yang timbul sebagai akibat adanya kaitan antara perkataan "nuklir" dengan teknologi yang digunakan dalam senjata nuklir dan risiko bahan radioaktif. Berbeda dengan teknologi senjata nuklir, nuklei berkait dengan MRI yang ada dan sedia ada samaada teknik ini digunakan atau tidak.

Kelebihan MRI

Salah satu kelebihan tinjau MRI adalah, menurut pengetahuan pengobatan masa kini, tidak berbahaya kepada orang yang sakit. Berbanding dengan CT scans "computed axial tomography" yang menggunakan aksial tomografi berkomputer yang melibatkan dos radiasi mengion, MRI hanya menggunakan medan magnet kuat dan radiasi tidak mengion "non-ionizing" dalam jalur frekuensi radio. Bagaimanapun, perlu diketahui bahwa orang sakit yang membawa benda asing logam (seperti serpihan peluru) atau implant terbenam (seperti tulang Titanium buatan, atau pacemaker) tidak boleh dipindai di dalam mesin MRI, disebabkan penggunaan medan megnet yang kuat.

Satu lagi kelebihan scan MRI adalah kualitas gambar yang diperoleh biasanya revolusi lebih baik berbanding CT scan. Lebih-lebih lagi untuk scan otakdan tulang belakang walaupun mesti dicatat bahwa CT scan kadangkala lebih berguna untuk cacat tulang.

0

Definisi EKG : Elektrokardiografi adalah ilmu yang mempelajari aktivitas listrik jantung. Elektokardiogram adalah suatu grafik yang menggambarkan rekaman listrik jantung

Cara Menggunakan EKG untuk merekam listrik jantung :

Persiapan

A. Alat

  • Mesin EKG, yang dilengkapi :
  • kabel untuk sumber listrik
  • kabel untuk bumi (ground)
  • Kabel elektroda ekstremitas dan dada
  • Plat elektroda ekstremitas beserta karet pengikat
  • Balon penghisap elektroda dada
  • Jelly
  • Kertas tissue
  • Kapas Alkohol
  • Kertas EKG
  • Spidol

B. Pasien

Penjelasan (informed consent)

- Tujuan pemeriksaan

- Hal-hal yang perlu diperhatikan saat perekaman

Dinding dada harus terbuka dan tidak ada perhiasan logam yang melekat.

Pasien diminta tenang atau tidak bergerak saat perekaman EKG

Cara memasang EKG

1. Pasang semua komponen/kabel-kabel pada mesin EKG

2. Nyalakan mesin EKG

3. Baringkan pasien dengan tenang di tempat tidur yang luas. Tangan dan kaki tidak saling bersentuhan

4. Bersihkan dada, kedua pergelangan kaki dan tangan dengan kapas alcohol (kalau perlu dada dan pergelangan kaki dicukur)

5. Keempat electrode ektremitas diberi jelly.

6. Pasang keempat elektrode ektremitas tersebut pada kedua pergelangan tangan dan kaki. Untuk tangan kanan biasanya berwarna merah, tangan kiri berwarna kuning, kaki kiri berwarna hijau dan kaki kanan berwarna hitam.

7. Dada diberi jelly sesuai dengan lokasi elektrode V1 s/d V6.

- V1 di garis parasternal kanan sejajar dengan ICS 4 berwarna merah

- V2 di garis parasternal kiri sejajar dengan ICS 4 berwarna kuning

-V3 di antara V2 dan V4, berwarna hijau

- V4 di garis mid klavikula kiri sejajar ICS 5, berwarna coklat

- V5 di garis aksila anterior kiri sejajar ICS 5, berwarna hitam

- V6 di garis mid aksila kiri sejajar ICS 5, berwarna ungu

1. Pasang elektrode dada dengan menekan karet penghisap.

2. Buat kalibrasi

3. Rekam setiap lead 3-4 beat (gelombang), kalau perlu lead II panjang (minimal 6 beat)

4. Kalau perlu buat kalibrasi setelah selesai perekaman

5. Semua electrode dilepas

6. Jelly dibersihkan dari tubuh pasien

7. Beritahu pasien bahwa perekaman sudah selesai

8. Matikan mesin EKG

9. Tulis pada hasil perekaman : nama, umur, jenis kelamin, jam, tanggal, bulan dan tahun pembuatan, nama masing-masing lead serta nama orang yang merekam

10.Bersihkan dan rapikan alat

Perhatian :

  • Sebelum bekerja periksa kecepatan mesin 25 mm/detik dan voltase 10 mm. Jika kertas tidak cukup kaliberasi voltase diperkecil menjadi ½ kali atau 5 mm. Jika gambaran EKG kecil, kaliberasi voltase diperbesar menjadi 2 kali atau 20 mm.
  • Hindari gangguan listrik dan mekanik saat perekaman
  • Saat merekam, operator harus menghadap pasien
  • Lead EKG

Terdapat 2 jenis lead :

A. Lead bipolar : merekam perbedaan potensial dari 2 elektrode

  • Lead I : merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan tangan kiri (LA) yang mana tangan kanan bermuatan (-) dan tangan kiri bermuatan (+)
  • Lead II : merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan kaki kiri (LF) yang mana tangan kanan bermuatan (-) dan kaki kiri bermuatan (+)
  • Lead III : merekam beda potensial antara tangan kiri (LA) dengan kaki kiri (LF) yang mana tangan kiri bermuatan (-) dan kaki kiri bermuatan (+)

B. Lead unipolar : merekam beda potensial lebih dari 2 elektode

Dibagi 2 : lead unipolar ekstremitas dan lead unipolar prekordial

Lead unipolar ekstremitas

  • Lead aVR : merekam beda potensial pada tangan kanan (RA) dengan tangan kiri dan kaki kiri yang mana tangan kanan bermuatan (+)
  • Lead aVL : merekam beda potensial pada tangan kiri (LA) dengan tangan kanan dan kaki kiri yang mana tangan kiri bermuatan (+)
  • Lead aVF : merekam beda potensial pada kaki kiri (LF) dengan tangan kanan dan tangan kiri yang mana kaki kiri bermuatan (+)

Lead unipolar prekordial : merekam beda potensial lead di dada dengan ketiga lead ekstremitas. Yaitu V1 s/d V6

Kertas EKG

Kertas EKG merupakan kertas grafik yang terdiri dari garis horisontal dan vertikal berbentuk bujur sangkar dengan jarak 1 mm. Garis yang lebih tebal (kotak besar) terdapat pada setiap 5 mm. Garis horizontal menggambarkan waktu (detik) yang mana 1 mm (1 kotak kecil) = 0,04 detik, 5 mm (1 kotak besar) = 0,20 detik. Garis vertical menggambarkan voltase yang mana 1 mm (1 kotak kecil) = 0,1 mV.

Kurva EKG

Kurva EKG menggambarkan proses listrik yang terjadi di atrium dan ventrikel. Proses listrik terdiri dari :

  • Depolarisasi atrium (tampak dari gelombang P)
  • Repolarisasi atrium (tidak tampak di EKG karena bersamaan dengan depolarisasi ventrikel)
  • Depolarisasi ventrikel (tampak dari kompleks QRS)
  • Repolarisasi ventrikel (tampak dari segmen ST)

Kurva EKG normal terdiri dari gelombang P,Q,R,S dan T kadang-kadang tampak gelombang U.

EKG 12 Lead

Lead I, aVL, V5, V6 menunjukkan bagian lateral jantung

Lead II, III, aVF menunjukkan bagian inferior jantung

Lead V1 s/d V4 menunjukkan bagian anterior jantung

Lead aVR hanya sebagai petunjuk apakah pemasangan EKG sudah benar

Aksis jantung

Sumbu listrik jantung atau aksis jantung dapat diketahui dari bidang frontal dan horisontal. Bidang frontal diketahui dengan melihat lead I dan aVF sedangkan bidang horisontal dengan melihat lead-lead prekordial terutama V3 dan V4. Normal aksis jantung frontal berkisar -30 s/d +110 derajat.Deviasi aksis ke kiri antara -30 s/d -90 derajat, deviasi ke kanan antara +110 s/d -180 derajat.

Sekilas mengenai EKG Normal

Gelombang P

Nilai normal :

Lebar ≤ 0,12 detik

Tinggi ≤ 0,3 mV

Selalu (+) di lead II

Selau (-) di lead aVR

Interval PR

Diukur dari permulaan gelombang P sampai permulaan gelombang QRS. Nilai normal berkisar 0,12-0,20 detik.

Gelombang QRS (kompleks QRS)

Nilai normal : lebar 0,04 - 0,12 detik, tinggi tergantung lead.

Gelombang Q : defleksi negatif pertama gelombang QRS

Nilai normal : lebar < 0,04 detik, dalam < 1/3 gelombang R. Jika dalamnya > 1/3 tinggi gelombang R berarti Q patologis.

Gelombang R adalah defleksi positif pertama pada gelombang QRS. Umumnya di Lead aVR, V1 dan V2, gelombang S terlihat lebih dalam, dilead V4, V5 dan V6 makin menghilang atau berkurang dalamnya.

Gelombang T

Merupakan gambaran proses repolirisasi Ventrikel. Umumnya gelombang T positif, di hampir semua lead kecuali di aVR

Gelombang U

Adalah defleksi positif setelah gelombang T dan sebelum gelombang P berikutnya. Penyebabnya timbulnya gelombang U masih belum diketahui, namun diduga timbul akibat repolarisasi lambat sistem konduksi Interventrikuler.

Interval PR

Interval PR diukur dari permulaan gelombang P sampai permulaan gelombang QRS. Nilai normal berkisar antara 0,12 – 0,20 detik ini merupakan waktu yang dibutuhkan untuk depolarisasi Atrium dan jalannya implus melalui berkas His sampai permulaan depolarisasi Ventrikuler

Segmen ST

Segmen ST diukur dari akhir gelombang QRS sampai permulaan gelombang T. segmen ini normalnya isoelektris, tetapi pada lead prekkordial dapat berpariasi dari – 0,5 sampai +2mm. segmen ST yang naik diatas garis isoelektris disebut ST eleveasi dan yang turun dibawah garis isoelektris disebut ST depresi

Cara menilai EKG

  • Tentukan apakah gambaran EKG layak dibaca atau tidak
  • Tentukan irama jantung ( “Rhytm”)
  • Tentukan frekwensi (“Heart rate”)
  • Tentukan sumbu jantung (“Axis”)
  • Tentukan ada tidaknya tanda tanda hipertrofi (atrium / ventrikel)
  • Tentukan ada tidaknya tanda tanda kelainan miokard (iskemia/injuri/infark)
  • Tentukan ada tidaknya tanda tanda gangguan lain (efek obat obatan, gangguan keseimbangan elektrolit, gangguan fungsi pacu jantung pada pasien yang terpasang pacu jantung)

1. MENENTUKAN FREKWENSI JANTUNG

Cara menentukan frekwensi melalui gambaran EKG dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu :

  1. 300 dibagi jumlah kotak besar antara R – R’
  2. 1500 dibagi jumlah kotak kecil antara R – R’
  3. Ambil EKG strip sepanjang 6 detik, hitung jumlah gelombang QRS dalam 6 detik tsb kemudian dikalikan 10 atau ambil dalam 12 detik, kalikan 5

2. MENENTUKAN IRAMA JANTUNG

Dalam menentukan irama jantung urutan yang harus ditentukan adalah sebagai berikut

  • Tentukan apakah denyut jantung berirama teratur atau tidak
  • Tentukan berapa frekwensi jantung (HR)
  • Tentukan gelombang P ada/tidak dan normal/tidak
  • Tentukan interval PR normal atau tidak
  • Tentukan gelombang QRS normal atau tidak

Irama EKG yang normal implus (sumber listrik) berasal dari Nodus SA, maka irmanya disebut dengan Irama Sinus (“Sinus Rhytem”)

Kriteria Irama Sinus adalah :

  • Iramanya  teratur
  • frekwensi jantung (HR) 60 – 100 x/menit
  • Gelombang P normal, setiap gelombang P selalu diikuti gel QRS, T
  • Gelombang QRS normal (0,06 – <0,12 detik)
  • PR interval normal (0,12-0,20 detik)

Irama yang tidak mempunyai criteria tersebut di atas kemungkinan suatu kelainan

0

Treadmill digunakan untuk mendeteksi aritmia yang terjadi hanya pada keadaan berusaha keras. Treadmill adalah perekaman EKG yang terus berlangsung tanpa henti dari jantung ketika pasien sedang menjalankan tingkat latihan yang meningkat. Sebagai tambahan mendeteksi aritmia, treadmill juga adalah tes screening yang berguna untuk kehadiran dari penyempitan arteri koroner yang dapat membatasi suplai dari darah beroksigen ke otot jantung pada waktu tes treadmill.

0

suatu alat yang digunakan untuk mengukur DJJ pada saat kontraksi maupun tidak. Jadi bila doppler hanya menghasilkan DJJ maka pada CTG kontraksi ibu juga terekam dan kemudian dilihat perubahan DJJ pada saat kontraksi dan diluar kontraksi. Bila terdapat perlambatan maka itu menandakan adanya gawat janin akibat fungsi plasenta yang sudah tidak baik.

Cara pengukuran CTG hampir sama dengan doppler hanya pada CTG yang ditempelkan 2 alat yang satu untuk mendeteksi DJJ yang satu untuk mendeteksi kontraksi, alat ini ditempelkan selama kurang lebih 10-15 menit

Halaman 44 dari 62

Pendaftaran Rawat Jalan

Promo Layanan. *baca syarat dan ketentuan berlaku
  • Penyelenggaraan Pelayanan kesehatan di RS Islam Jakarta Cempaka Putih bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan rujukan menuju RS Islam Jakarta Cempaka…
    RS Islam Jakarta Cempaka Putih
Rekanan RS Islam Jakarta Cempaka Putih #Asuransi #BUMN #BUMD #Perusahaan

Terakreditasi Nomor. LARSI/SERTIFIKAT/096/02/2023

Lulus Tingkat Paripurna      

Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih

  • Jl. Cemp. Putih Tengah I No.1, RT.11/RW.5, Cempaka Putih Timur, Kecamatan Cempaka Putih, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 10510
  • +6221 4280 1567
  • +6221 425 0451
  • rsijpusat@rsi.co.id

Pendaftaran Pasien Rawat Jalan Khusus BPJS

Pendaftaran Rawat Jalan Pasien Umum, Jaminan Perusahaan & Asuransi

  • +6221 425 0451 ext. 6508

Visitors

© 2018-2024. Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih