You are here:RSIJCP/Pusat Informasi/Artikel/Anak 2 Tahun Belum Bisa Bicara: Normalkah? Ini Panduan Lengkap untuk Orang Tua

Anak 2 Tahun Belum Bisa Bicara: Normalkah? Ini Panduan Lengkap untuk Orang Tua

Diterbitkan di Artikel
Kamis, 15 Januari 2026
Terakhir diubah pada Kamis, 15 Januari 2026 17:10
75 kali

Menjadi orang tua di zaman sekarang bukanlah hal yang mudah. Orang tua dituntut untuk selalu sigap, aktif, dan peka terhadap setiap tahapan tumbuh kembang anak. Di media sosial, ada banyak informasi yang mudah diakses, termasuk melihat anak seusia buah hati yang sudah lancar bicara, hafal warna, bahkan bernyanyi dengan percaya diri. Tanpa disadari, perbandingan itu sering menimbulkan rasa cemas, bersalah, hingga takut “terlambat mengambil langkah”.

Kekhawatiran ini wajar, apalagi usia 0–3 tahun dikenal sebagai masa emas tumbuh kembang (golden period). Pada periode ini, perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat. Bahkan, sebagian besar kemampuan bahasa anak mulai terbentuk sebelum usia 3 tahun. Artinya, stimulasi dan deteksi dini pada masa ini memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan komunikasi anak di masa depan.

Faktanya, keterlambatan bicara merupakan salah satu keluhan tumbuh kembang yang paling sering ditemui pada anak usia balita. Banyak anak usia 2 tahun yang belum bisa bicara ternyata membutuhkan stimulasi tambahan atau pendampingan khusus agar perkembangannya optimal. Kabar baiknya, semakin dini keterlambatan bicara dikenali dan ditangani, semakin besar peluang anak untuk mengejar ketertinggalannya.

Perasaan khawatir bukan tanda orang tua panik berlebihan, justru sebaliknya. Kepedulian orang tua terhadap perkembangan bicara anak adalah langkah awal yang sangat penting. Dengan pemahaman yang tepat, orang tua dapat membedakan mana variasi perkembangan yang masih wajar dan mana tanda keterlambatan yang perlu mendapatkan bantuan profesional. Sehingga penting dan sudah seharusnya bagi Ayah dan Bunda memiliki panduan lengkap, jelas, dan mudah dipahami untuk mendampingi anak melewati masa emas tumbuh kembangnya dengan lebih tenang dan penuh keyakinan.

Milestone Bicara Normal Anak Usia 0–3 Tahun

Perlu diingat bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda, tetapi ada tahapan umum (milestone) yang menjadi acuan perkembangan bicara dan bahasa berdasarkan standar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan American Academy of Pediatrics (AAP). Umumnya dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Usia 0 – 3 bulan: Anak berkomunikasi lewat tangisan dan suara sederhana.
  • Usia 4 – 6 bulan: Mulai tertawa dan mampu bereaksi terhadap suara.
  • Usia 6 – 9 bulan: Anak mulai mengoceh (ba-ba, da-da), serta memberi respon seperti menoleh saat dipanggil.
  • Usia 9 – 12 bulan: Kemampuan untuk meniru suara, memahami kata sederhana seperti “tidak”.
  • Usia 12 – 18 bulan: Mengucapkan 5-20 kata serta menunjuk benda yang diinginkan.
  • Usia 18 – 24 bulan: Memiliki ±50 kata dan mulai menggabungkan 2 kata sederhana seperti “mau susu”.
  • Usia 2 – 3 tahun: Ucapan mulai dipahami orang sekitar dan mampu menyebut nama benda sederhana.

Milestone bicara membantu orang tua melihat gambaran umum perkembangan komunikasi anak sesuai usianya. Namun, ketika anak belum mencapai tahapan tersebut, keterlambatan yang terjadi tidak selalu sama pada setiap anak. Ada anak yang sebenarnya sudah memahami ucapan orang lain tetapi kesulitan berbicara, ada pula yang mengalami kesulitan dalam memahami dan menggunakan bahasa. Untuk itulah penting bagi orang tua memahami perbedaan antara speech delay dan language delay agar penanganannya lebih tepat.

Perbedaan Speech Delay dan Language Delay Pada Anak

Kedua istilah ini sering terdengar mirip, tapi sebenarnya berbeda:

  • Apa itu Speech delay?
    Speech delay merupakan kondisi ketika anak mengalami keterlambatan dalam mengucapkan kata atau suara secara jelas. Biasanya, anak sudah memahami apa yang dikatakan orang lain, tetapi kesulitan mengekspresikannya lewat ucapan.
    Beberapa faktor yang dapat menyebabkan speech delay antara lain:
  • Masalah artikulasi atau otot mulut
  • Gangguan pendengaran ringan 
  • Kurangnya Latihan bicara
  • Kebiasaan menggunakan gestur tanpa bicara
  • Faktor keturunan 

Sedangkan untuk ciri-ciri speech delay antara lain:

  • Anak mengerti perintah sederhana, tetapi sulit berbicara
  • Kosakata ada, namun pengucapan yang kurang jelas
  • Anak sering menunjuk atau menarik tangan orang tua
  • Anak tampak ingin berbicara, tetapi ucapannya masih terbatas
  • Apa itu Language delay?
    Language delay adalah kondisi ketika anak mengalami keterlambatan dalam memahami dan menggunakan bahasa, baik secara lisan maupun non-lisan. Masalahnya bukan hanya pada pengucapan, tetapi juga pada pemahaman dan penyusunan bahasa. 
    Beberapa faktor yang sering berperan antara lain:
  • Minimnya stimulasi Bahasa
  • Gangguan perkembangan tertentu
  • Gangguan pendengaran
  • Kesulitan memproses Bahasa
  • Kondisi perkembangan yang memengaruhi komunikasi

Sedangkan untuk ciri-ciri language delay antara lain:

  • Anak sulit memahami perintah sederhana
  • Tidak merespons saat dipanggil
  • Kosakata masih sangat terbatas
  • Sulit Menyusun kalimat sesuai usia
  • Interaksi komunikasi dua arah kurang

Namun sayangnya, tidak sedikit anak yang mengalami kombinasi dari kedua kondisi tersebut, speech delay dan language delay. Oleh karena itu, penting bagi orang tua memahami perbedaan kedua kondisi tersebut dan melakukan evaluasi sebelum akhirnya mengambil tindakan pemeriksaan ke tenaga profesional.  

10 Tanda Anak Mengalami Keterlambatan Bicara yang Perlu Diwaspadai

Setelah memahami perbedaan antara speech delay dan language delay, langkah selanjutnya yang tak kalah penting bagi orang tua adalah mengenali tanda-tanda awal keterlambatan bicara pada anak. Tanda ini sering kali muncul secara bertahap dan bisa terlihat dalam aktivitas sehari-hari. Dengan mengenalinya sejak dini, orang tua dapat mengambil langkah yang tepat sebelum keterlambatan menjadi semakin nyata.

Orang tua perlu lebih waspada jika anak menunjukkan beberapa tanda berikut:

  1. Usia 12 bulan belum mengoceh
  2. Jarang atau tidak menunjuk benda yang diinginkan
  3. Tidak merespons saat dipanggil namanya
  4. Usia 18 bulan belum mengucapkan kata bermakna
  5. Usia 2 tahun tapi kosakata masih sangat sedikit
  6. Belum bisa menggabungkan 2 kata di usia 2 tahun
  7. Lebih sering menarik tangan orang tua daripada bicara
  8. Ucapannya sulit dipahami bahkan oleh keluarga
  9. Mudah frustrasi karena sulit menyampaikan keinginan
  10. Tidak terlihat perkembangan bicara dalam beberapa bulan

Munculnya satu atau beberapa tanda keterlambatan bicara pada anak tentu membuat orang tua bertanya-tanya, “Apa penyebabnya?” Penting untuk dipahami bahwa keterlambatan bicara tidak disebabkan oleh satu faktor saja.

Faktor Penyebab Keterlambatan Bicara Pada Anak

Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi perkembangan bicara anak, baik dari sisi biologis, lingkungan, maupun stimulasi sehari-hari. Pada banyak kasus, faktor-faktor ini saling berkaitan dan tidak berdiri sendiri, diantaranya:

  • Faktor Biologis
    Beberapa kondisi fisik dan medis dapat memengaruhi kemampuan bicara anak, antara lain:
  • Gangguan pendengaran, baik ringan maupun berat
  • Riwayat lahir premature atau berat badan lahir rendah
  • Masalah pada organ bicara seperti lidah, rahang, atau langit-langit mulut
  • Riwayat keterlambatan bicara dalam keluarga

Anak yang tidak mendengar suara dengan jelas akan lebih sulit meniru dan memproduksi kata. 

  • Faktor Perkembangan
    Faktor ini berkaitan dengan kemampuan tumbuh kembang anak secara keseluruhan, seperti:
  • Speech delay
  • Language delay
  • Keterlambatan perkembangan secara umum

Pada kondisi ini, anak membutuhkan evaluasi menyeluruh untuk mengetahui kebutuhan intervensinya. 

  • Faktor Lingkungan
    Lingkungan juga turut memberikan peran besar dalam memengaruhi perkembangan kemampuan bicara anak, diantaranya:
  • Kurangnya interaksi dua arah dengan orang dewasa
  • Anak lebih sering berkomunikasi satu arah, seperti menonton TV atau gadget
  • Lingkungan yang minim percakapan

Anak butuh belajar bicara dari interaksi langsung yang terjadi dilingkungan dan sekitarnya, bukan dari layar.

  • Faktor Stimulasi
    Stimulasi yang kurang tepat juga bisa memberikan dampak, seperti:
  • Orang tua yang tidak memberikan kesempatan pada anak untuk bicara
  • Anak jarang diajak berdiskusi atau dibacakan buku
  • Tidak ada latihan atau minimnya komunikasi dua arah yang dibangun dalam aktivitas sehari-hari anak.

Padahal, stimulasi sederhana yang dilakukan secara konsisten sangat membantu dalam tahap perkembangan bicara anak.

  • Faktor Lain yang Perlu Diwaspadai
  • Terlalu banyak screen time yang diberikan oleh orang dewasa
  • Pola asuh yang kurang melibatkan komunikasi verbal dengan anak
  • Strict parenting yang menyebabkan anak jarang bermain dengan orang lain

Mengetahui berbagai faktor penyebab keterlambatan bicara membantu orang tua memahami bahwa kondisi ini bisa dipengaruhi banyak hal. Namun pertanyaan selanjutnya adalah: “kapan orang tua perlu mulai khawatir dan membawa anak ke tenaga profesional?”.

Kapan Anak Harus Dibawa ke Dokter atau Terapis Wicara?

Sebaiknya orang tua tidak perlu menunggu sampai anak benar-benar tertinggal jauh. Pemeriksaan sejak dini justru membantu anak mendapatkan penanganan yang lebih optimal. 

Segera lakukan konsultasi jika muncul tanda red flags yang perlu diwaspadai berikut:

  • Anak usia 2 tahun namun belum bisa bicara sama sekali
  • Tidak memahami atau tidak merespons perintah sederhana yang diberikan
  • Tidak menoleh saat dipanggil atau anak tampak tidak peka terhadap suara
  • Sangat minim melakukan kontak mata
  • Lebih sering tantrum karena kesulitan dalam menyampaikan keinginan
  • Tidak nampak perkembangan bicara dalam beberapa bulan
  • Kemampuan bicara yang ada, malah menghilang

Tidak ada salahnya bagi orang tua untuk melakukan konsultasi lebih awal, karena semakin cepat ditangani, semakin besar peluang anak berkembang optimal. Langkah tersebut bukan berarti anak pasti mengalami gangguan, melainkan langkah bijak untuk memastikan tumbuh kembang anak berjalan sesuai jalurnya. 

Apa yang Dilakukan Saat Asesmen Bicara Pertama?

Meskipun banyak orang tua yang merasa cemas membayangkan proses pemeriksaan yang akan dijalani anak, asesmen bicara sebenarnya dirancang agar aman, ramah anak, dan tidak menyakitkan. Tujuannya bukan untuk memberi label, melainkan untuk memehami kebutuhan anak secara menyeluruh. 

Pada sesi asesmen awal, terapis wicara akan:

  1. Wawancara dengan Orang Tua|
    Pada tahapan ini, terapis akan menanyakan riwayat tumbuh kembang anak mulai dari kehamilan, proses melahirkan, hingga kebiasaan komunikasi anak dirumah.
  2. Observasi Interaksi Anak
    Anak akan diajak bermain untuk melihat cara ia berkomunikasi, memberikan respons, dan berinteraksi secara alami. 
  3. Penilaian Kemampuan Bicara dan Bahasa
    Di tahap ini, terapis akan menilai dari segi pemahaman Bahasa anak, kemampuan ia meniru dan mengucapkan kata, serta cara anak dalam menyampaikan keinginannya.
  4. Evaluasi Faktor Pendukung Lainnya
    Faktor pendukung lainnya dapat terkait pendengaran, perhatian anak, serta pola stimulasi di rumah
  5. Penyampaian Hasil dan Rencana Lanjutan
    Diakhir, orang tua akan mendapatkan penjelasan terkait kondisi anak, apakah anak perlu mendapatkan tindakan terapi rutin, stimulasi di rumah, atau observasi lanjutan.

Asesmen dilakukan sebagai langkah awal untuk menentukan pendekatan terbaik sesuai kebutuhan anak, bukan sekedar mengejar target bicara. Pada setiap tahapannya, dilakukan dengan pendekatan yang ramah anak dan tidak menyakitkan.

Stimulasi Bicara yang Bisa Dilakukan Orang Tua di Rumah

Setelah orang tua memahami kondisi anak melalui asesmen yang dilakukan, langkah penting berikutnya adalah peran orang tua dalam keseharian anak. Terapi dengan tenaga profesional yang sedang berjalan akan jauh lebih efektif bila didukung stimulasi yang konsisten dirumah. Hal ini penting karena anak belajar bicara paling banyak dari interaksi sehari-hari dengan orang terdekatnya.

Tidak perlu alat khusus, melainkan peran orang tua sebagai “terapis utama” bagi anak. Beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan:

  • Ajak anak berbicara dalam aktivitas sehari-hari
  • Gunakan kalimat pendek dan jelas, seperti “minum air”, “pakai sepatu”, dsj., agar mudah ditiru anak.
  • Bacakan buku cerita bergambar setiap hari
  • Kurangi screen time dan perbanyak intersaksi langsung
  • Beri waktu Anak untuk memberikan respons, jangan langsung menyela
  • Ulangi dan perluas ucapan anak, seperti anak berkata “bola”, orang tua dapat memberi respon “iya, bola warna merah”.
  • Beri pujian setiap anak mencoba berbicara

Stimulasi yang dilakukan secara konsisten dan penuh kesabaran akan membantu perkembangan bicara anak secara signifikan. 

Booking Asesmen dan Terapi Wicara Anak di RSIJ Cempaka Putih

Untuk mendeteksi dini perkembangan bicara anak dan mengetahui apakah anak memerlukan terapi wicara atau cukup dengan stimulasi di rumah, Ayah dan Bunda dapat melakukan booking asesmen bicara. Asesmen ini dapat dilakukan di RS Islam Jakarta Cempaka Putih (RSIJCP) melalui layanan Rehabilitasi Medik, dengan pendekatan profesional dan ramah anak.

Layanan tersedia untuk pasien BPJS, asuransi, maupun umum, dan pendaftaran dapat dilakukan dengan mudah melalui WhatsApp. Deteksi dini adalah langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang optimal anak sejak masa emasnya.

Jangan tunggu sampai “nanti juga bisa sendiri”, lakukan asesmen bicara anak di RSIJCP untuk mendukung tumbuh kembang optimal buah hati sejak dini.

Info dan pendaftaran dapat hubungi:

? BPJS: +62 878-8767-8429

? Pendaftaran Asuransi & Tunai: 0812-1349-1516

 

FAQ Seputar Keterlambatan Bicara Anak

  1. Apakah speech delay bisa sembuh total?
    Banyak kasus anak dengan speech delay yang sembuh dan dapat berkembang dengan sangat baik. Terlebih jika anak ditangani sejak dini dan mendapatkan stimulasi yang tepat.
  1. Berapa lama terapi wicara sampai anak bisa bicara normal?
    Setiap anak memilki durasi terapi yang berbeda-beda, tergantung kondisi anak dan konsistensi latihan di rumah. Evaluasi perkembangan anak juga penting dilakukan secara berkala.
  1. Apakah terapi wicara anak ditanggung BPJS?
    Ya, terapi wicara dapat ditanggung BPJS namun dengan ketentuan tertentu, sesuai indikasi medis dan rujukan.

Share ke Media Sosial

Pendaftaran Rawat Jalan

Promo Layanan. *baca syarat dan ketentuan berlaku
  • Rumah Sakit Islam Jakarta adalah perwujudan dari Iman sebagai amal shaleh kepada ALLAH SWT dan menjadikannya sebagai sarana ibadah.
    RS Islam Jakarta Cempaka Putih
Rekanan RS Islam Jakarta Cempaka Putih #Asuransi #BUMN #BUMD #Perusahaan

Terakreditasi Nomor. LARSI/SERTIFIKAT/096/02/2023

Lulus Tingkat Paripurna      

Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih

  • Jl. Cemp. Putih Tengah I No.1, RT.11/RW.5, Cempaka Putih Timur, Kecamatan Cempaka Putih, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 10510
  • +6221 4280 1567
  • +6221 425 0451
  • rsijpusat@rsi.co.id

Pendaftaran Pasien Rawat Jalan Khusus BPJS

Pendaftaran Rawat Jalan Pasien Umum, Jaminan Perusahaan & Asuransi

  • +6221 425 0451 ext. 6508

Visitors

© 2018-2024. Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih