You are here:Beranda/Artikel/Cerdas Mengkonsumsi Garam

Cerdas Mengkonsumsi Garam

Jumat, 12 Desember 2014 Written by Yulvitrawasih 4820 times Print

Pernah mendengar istilah ‘bagai sayur tanpa garam?’…istilah ini tentu tepat bila dikaitkan dengan rasa hambar akibat ketiadaan garam pada sayur kegemaran. Garam merupakan salah satu bumbu dapur yang berperan penting agar tercipta makanan yang sedap dilidah. Namun beberapa kurun waktu kebelakang, garam sering menjadi kambing hitam pada penderita penyakit tertentu, seperti penderita hipertensi dan jantung, sehingga ada pantangan bagi mereka dalam mengkonsumsinya. Hipertensi diketahui merupakan salah satu faktor risiko dari penyakit jantung, stroke, atau ginjal.

Secara umum, garam memiliki sisi positif dan negatif bagi tubuh. Di satu sisi, gula dan garam diperlukan, tetapi di sisi lain akan memberikan efek yang buruk bila dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang, namun tidak berarti garam harus dihilangkan dari menu makan sehari-hari, karena garam tetap penting untuk tubuh seperti mencegah gangguan pada system syaraf dan menghindari risiko meningkatnya kadar trigliserida yang berisiko memicu resistensi insulin, yang terjadi karena kadar garam terlalu rendah.

Belum lagi kandungan yodium yang terdapat pada garam merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan. Kekurangan maupun kelebihan konsumsi yodium dapat mengakibatkan gangguan fungsi tiroid. Gangguan fungsi tiroid akan menyebabkan tubuh kurang berenergi. Bahkan jika sudah parah akan menyebabkan kerusakan sebagian otak dan kretinisme, yang ditandai dengan penurunan fungsi kognitif. Garam memang bukan satu-satunya sumber yodium, makanan laut seperti ikan, kerang, cumi-cumi dan rumput laut, serta telur, susu, dan daging juga merupakan sumber yodium.

Di Indonesia, makanan dan minuman yang mengandung garam tinggi masih banyak dikonsumsi masyarakat. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional 2011, konsumsi garam masyarakat sebesar 311 gram per kapita per minggu. Padahal, batasan konsumsi garam sehari adalah 5 gram atau 2.000 – 2300 mg natrium, ini untuk orang yang sehat, sedangkan untuk mereka yang memiliki faktor risiko penyakit jantung (diabetes, hipertensi, punya penyakit ginjal atau berusia di atas 51 tahun), disarankan untuk membatasi garam hanya 1.500 mg.

Prinsip yang harus kita cermati dalam konsumsi garam juga dalam mengkonsumsi berbagai jenis makananlainnya adalah tidak berlebih-lebihan. Salah satu cara untuk membatasi asupan gula dan garam adalah dengan mulai memperhatikan label gizi dalam makanan kemasan, berbagai macam makanan cepat saji, cemilan keripik, sosis, kornet, makanan dalam kaleng, dan lain sebagainya itu mengandung banyak sodium, sehingga kita harus cermat sewaktu mengkonsumsinya agar tidak terjadi asupan garam yang berlebihan dalam sehari. Selain itu, sebaiknya jangan menyimpan garam ekstra di meja makan, karena kebiasaan ini akan merangsang kita untuk menambahkan garam ke dalam makanan saat makanan yang disantap terasa hambar.

jadi, selalu pilihlah cara sehat dalam mengkonsumsi makanan sehari-hari.

Share

Alamat

Rumah Sakit Islam Jakarta CP

Jl. Cempaka Putih Tengah I / 1

Jakarta Pusat - Indonesia 10510

Telephone

  • +62-21 428-01567
    +62-21 425-0451
  • Fax +62-21 420-6681
  • Pendaftaran Rawat Jalan
    1. Khusus BPJS 0812 8896 9622 (Hanya WA)

    2. Pasien Umum, Jaminan Perusahaan dan Asuransi
        * 0812 1349 1516 (Hanya WA) 
        * +62-21 428-01567 Ext. 6508

    3. Aplikasi Android

        Unduh Melalui Play Store (E-Smart RS Islam Jakarta Cempaka Putih)

    Khusus pasien yang telah memiliki no Rekam Medik (No. RM)

Email

  • rsijpusat@rsi.co.id

Statistik Web

Today1291
This week2770
This month22709
Total5052740

Who Is Online

15
Online

Copyright © 2018. Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih

Powered by inisial dotcom

X

Right Click

No right click