You are here:Beranda/Artikel/Pentingnya Imunisasi untuk Mencegah Wabah, Sakit Berat, Cacat, dan Kematian Bayi - Balita

Pentingnya Imunisasi untuk Mencegah Wabah, Sakit Berat, Cacat, dan Kematian Bayi - Balita

Sabtu, 07 Jun 2014 Written by Yulvitrawasih 7330 times Print

Bagaimana cara mencegah  penyakit menular pada bayi dan anak? 

Pencegahan umum  : berikan ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, pakaian, mainan, rumah, lingkungan serta penyediaan air bersih untuk makanan & minuman.

Pencegahan spesifik: denganimunisasi lengkap dan teratur, karena dalam waktu 4 – 6  minggu setelah imunisasi akan timbul kekebalan spesifik yang mampu mencegah penularan penyakit, sehingga tidak mudah tertular penyakit berbahaya. Bila tertularpun tidak akan menjadi sakit berat, tidak menularkan pada bayi dan anak lain, sehingga tidak terjadi wabah dan tidak terjadi banyak kematian. 

Benarkah imunisasi BERMANFAAT ? 

Benar. Ahli-ahli di 194 negarayang mengawasi program imunisasi di negara masing-masing menyatakan bahwa imunisasi terbukti bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat atau kematian akibat penyakit menular tertentu. Oleh karena itu  sampai saat ini imunisasi di lakukan secara rutin di seluruh dunia, dinegara-negara kaya yang bersih dengan gizi baik, maupun dinegara-negara miskin dengan lingkungan yang kurang bersih. Semua negara berlomba untuk mengimunisasi lebih dari 90% bayi dan balita, untuk mencegah wabah, sakit berat, cacat dan kematian.

Di Indonesia, pemerintah menyediakan vaksin gratis di sarana kesehatan pemerintah meliputi : Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, Hib, Campak, dT, TT.Imunisasi yang belum disediakan gratis oleh pemerintah antara lain : Rotavirus, Pneumokokus, Influenza, MMR, Demam Tifoid, Cacar air, Hepatitis A,  Kanker Leher Rahim (HPV)vaksin anti Rabies,  Meningokokus, dan demam kuning (yelli.

Imunisasi Hepatitis B : untuk mencegahkerusakan hati akibat serangan virus Hepatitis B. Bila berlanjut sampai dewasa dapat menjadi kanker hati. Vaksin hepatitis B disuntikkan di paha bayi segera setelah lahir, sebelum berumur 12 jam, untuk mencegah penularan virus hepatitis B dari Ibu pada bayinya, karena banyak ibu hamil  di Indonesia tidak tahu bahwa didalam darahnya terdapat virus hepatitis B. Oleh karena itu sebaiknya ibu hamil diperiksa terhadap kemungkinan terinfeksi hepatitis B (juga toksoplasma, rubela,  sitomegali dan herpes). Sebelum imunisasi bayi baru lahir sebaiknya disuntikkan vitamin K1 pada paha yang lain. Setelah itu vaksin hepatitis B disuntikan  pada usia 1 bulan dan pada usia 6 bulan, dapat digabung dengan imunisasi DPT dan Hib.

Imunisasi Polio: untuk mencegahkelumpuhan akibat serangan virus polio liar yang menyerang sel-sel syaraf di sumsum tulang belakang. Bila menyerang otak dapat lumpuh seluruh tubuh dan menyebabkan kematian. Vaksin polio diteteskan ke dalam mulut bayi baru lahir ketika akan pulang ke rumah, dilanjutkan pada umur 2, 4, 6, 18-24  bulan dan 5 tahun. Vaksin polio suntikan khusus untuk bayi balita yang kekebalannya rendah karena penyakit atau karena sedang dalam pengobatan yang mengganggu kekebalan.

Imunisasi BCG : untuk mencegahtuberkulosis (Tbc) berat pada  paru, otak,  kelenjar getah bening dan tulang sehingga menimbulkan sakit berat, lama, kematian atau kecacatan. Vaksin BCG disuntikan dikulit lengan atas kanan pada umur 2-3 bulan. Bekas suntikan setelah 1 bulan dapat timbul benjolan kemerahan, kemudian pecah, keluar seperti nanah, tanpa demam dan nyeri, adalah reaksi yang umum terjadi dan tidak berbahaya. Bersihkan dengan alkohol atau iodin. Koreng akan menyembuh dalam beberapa minggu. Bekasnya dapat terlihat seumur hidup.

Imunisasi DPT atau DPaT : untuk mencegah 3 penyakit : Difteri, Pertusis dan Tetanus.Kuman Difteri membentuk membran tebal yang menyumbat jalan nafas, serta mengeluarkan racun yang melumpuhkan otot jantung, sehingga banyak menimbulkan kematian. KumanPertusismengakibatan batuk hebat dan lama, sesak napas, radang paru   sehingga banyak menyebabkan kematian bayi. Kuman Tetanusmasuk melalui tali pusat, atau luka dalam yang sempit, kemudian kuman mengeluarkan racun yang menyerang syaraf otot, sehingga otot seluruh tubuh menjadi kaku, tidak bisa minum, makan atau bernafas, sehingga banyak menimbulkan kematian.

Vaksin DPT disuntikkan di paha mulai umur 2 bulan, dilanjutkan pada umur 3-4 bulan, 4-6 bulan,  dan 18-24 bulan, dapat digabung dengan vaksin Hepatitis B dan Hib. Dilanjutkan lagi di lengan pada umur  5-6 tahun, 10-12 tahun dan 18 tahun, dengan vaksin yang isinya sedikit berbeda (DT, Td atau TT)

Imunisasi Hib dan Pneumokokus : untuk mencegah serangan kuman Hib dan pneumokokus yang mengakibatkanradang paru  (pneumonia), radang telinga tengah  dan radang otak (meningitis) yang banyak menimbulkan kematian atau kecacatan. Vaksin Hib dan Pneumokokus disuntikan mulai  umur 2, 4, 6, dan 15 bulan, dapat digabung dengan vaksin DPT atau DPaT.

Imunisasi Rotavirus: untuk mencegah diare berat akibat Rotavirus, yang mengakibatkan bayi muntah mencret hebat, kekurangan cairan, gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa,  sehingga banyak  menyebabkan kematian. Vaksin Rotavirus di teteskan perlahan ke mulut bayi mulai  umur 2, 4  (dan 6 bulan), tergantung jenis vaksin.

Imunisasi Influenza : untuk mencegahserangan virus influenza yang mengakibatkan demam tinggi, batuk pilek hebat, sesak nafas, radang paru,  sehingga dapat menyebabkan kematian. Vaksin influenza disuntikan mulai  umur 6, 7 bulan, kemudian diulang setiap tahun pada balita, usia sekolah,  remaja, dewasa  bahkan  usia lanjut.

Imunisasi Campak : untuk mencegah serangan virus campak yang mengakibatkan  demam tinggi, ruam di kulit, mata, mulut, radang paru (pneumonia), diare, dan radang otak, sehingga banyak mengakibatkan kematian. Vaksin campak disuntikkan mulai usia 9 bulan dan booster 2 tahun.

Imunisasi Cacar air (varisela) : untuk mencegah penyakit cacar air yang merusak kulit, mata, menimbulkan diare, kadang-kadang radang paru, dan keguguran bila menyerang janin dalam rahim. Vaksin cacar air disuntikkan mulai umur 1 tahun.

Imunisasi MMR : untuk  mencegah serangan virus MMR, yaitu Mumps (gondongan, mengakibatkan radang buah zakar, mandul), Morbili (campak) dan Rubela (campak Jerman) yang dapat menyerang janin sehingga mengakibatkan keguguran atau buta, tuli, keterbelakangan mental dan kebocoran sekat jantung bayi. Vaksin MMR disuntikan mulai  umur 15 bulan dan di ulang pada umur 5-6 tahun. Berdasarkan 26 penelitian pakar di berbagai negara vaksin MMR tidak terbukti menyebabkan autisme.

Imunisasi Tifoid : untuk mencegah penyakit demam tifoid berat yang mengakibatkan demam tinggi dan lama, diare atau obstipasi, radang sampai kebocoran usus, dapat mengakibatkan kematian. Vaksin demam tifoid disuntikan mulai umur 2 tahun, diulang setiap 3 tahun.

Imunisasi Hepatitis A : untuk mencegah kerusakan hati karena serangan virus hepatitis A, yang dapat  mengakibatkan kematian. Vaksin hepatitis A disuntikkan mulai umur 2 tahun kemudian di ulang pada umr 2,5 – 3 tahun. Imunisasi HPV  :untuk mencegah kanker leher rahim karena virus human papiloma (HPV) yang menyerang tanpa gejala sejak usia remaja dan akan mengakibatkan kanker leher rahim pada dewasa. Vaksinasi HPV disuntikan 3x pada remaja perempuan  mulai umur 10 tahun, dilanjutkan 1-2 bulan dan 6 bulan kemudian.  

Benarkah imunisasi AMAN ? 

Benar. Jutaan bayi dan anaksetiap hari diimunisasi di  194 negara, diawasi oleh beberapa institusi resmi yang meneliti dan mengawasi  imunisasi.Semua institusi resmi di semua negara menyatakan bahwa imunisasi aman bagi bayi balita anak sampai remaja. Institusi-institusi tersebut anggotanya terdiri dari para ahli : penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, toksikologi, farmasi, epidemiologi, biostatistika dll. Karena terbukti aman makasemua negara berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90% (lebih dari 90 % anak/bayi akan di imunisasi). Tidak ada negara yang melarang imunisasi

Benarkah di semua negara ada badan resmi yang mengawasi program imunisasi ? 

Benar, di semua negara ada ahli-ahli di badan-badan resmi yang mengawasai program imunisasi yang anggotanya terdiri dari para ahli tersebut di atas. Contohnya di Indonesia terdapat banyak institusi yang mengawasi program imunisasi, antara lain Badan POM (pengawasan obat dan makanan), Badan Litbangkes, Dit SurveilansImunisasi Kesehatan Matra Kenkes, Indonesia Technical Advisory Group for Immunization (ITAGI), Komnas / Komda Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Persatuan Ahli Penyakit Dalam, badan penelitian di Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan Masyarakat di beberapa universitas di Indonesia dll. Semua institusi dan badan tersebut menyatakan bahwa imunisasi aman, dan bermanfaat untuk mencegah penularan penyakit berbahaya.

Konon ada “ilmuwan” menyatakan bahwa “imunisasi berbahaya” ? 

Tidak benar imunisasi berbahaya. “Ilmuwan”  yang sering dikutip di buku, tabloid, milis blog, twitter, atau facebook, ternyata bukan ahli vaksin, melainkan sarjana hukum, dokter spesialis bedah,   statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi, wartawan, politikus dan lain-lain  sehingga pengetahuan dan pengalaman mereka tentang vaksin sangat sedikit, atau berdasarkan pengalaman pribadi. Sebagian besar mereka  aktif pada periode 1950- 1960, atau mengutip sumber informasi pada periode tersebut, sehingga sumber datanya sangat kuno. Padahal jenis dan teknologi pembuatan  vaksin telah mengalami kemajuan yang pesat sehingga sangat berbeda dengan keadaan di tahun 1950 – 1960an.

Benarkah “ilmuwan” yang sering dikutip buku,  tabloid, milis, ternyata  bukan ahli vaksin ? 

Ya, mereka semua bukan ahli vaksin.Contoh : Dr Bernard Greenberg (biostatistika tahun 1950), DR. Bernard Rimland (Psikolog),  Dr. William Hay (kolumnis),  Dr. Richard Moskowitz (homeopatik), dr. Harris Coulter,  PhD (penulis buku homeopatik, kanker), Neil Z. Miller,  (psikolog, jurnalis), WB Clark (awal tahun 1950) , Bernice Eddy (Bakteriologis tahun 1954), Robert F. Kenedy Jr (sarjana hukum)  Dr. WB Clarke (ahli  kanker, 1950an), Dr. Bernard Greenberg(1957-1959).

Tidak valid penelitianDr. Wakefield” ttg  MMR menyebabkan autism ? 

Ya, penelitiannya tidak valid .  Dr. Wakefield bukan ahli vaksin, dia  dokter spesialis bedah. Penelitian Wakefield tahun 1998 hanya berdasarkan sampel 18 anak.Sedangkan lebih dari  26 penelitian lain pada 1000 lebih  anak yang dilakukan oleh berbagai ahli menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan MMR dan autism dan telah dipublikasikan oleh AAP (American Academic of Pediatric)

Setelah diaudit oleh tim ahli penelitian di Inggris, terbukti bahwa metode penelitian Wakefield tidak sahih, sehingga kesimpulannya tidak benar.  Hal ini telah diumumkan di majalah resmi kedokteran Inggeris British Medical Journal, Februari 2011.

Benarkah isu di semua vaksin terdapat zat-zat berbahaya yang dapat merusak otak ? 

Tidak benar. Isu itu karena “ilmuwan” tersebut di atas  tidak mengerti isi vaksin, manfaat dan batas keamanan zat-zat di dalam vaksin.                                                                                                                               Contoh : Yang berbahaya untuk kesehatan adalah METIL merkuri. Di dalam vaksin TIDAK ADA METIL MERKURI, hanya ada ETIL merkuri yang tidak berbahaya, karena sifat etil merkuri sangat berbeda dari metil merkuri, walaupun namanya mirip. (Seperti nama air yang mirip : air mineral, air keras, air raksa, namanya mirip tetapi sifatnya sangat berbeda).

Jumlah etil merkuri yang ada dalam zat timerosal yang masuk ke tubuh bayi melalui vaksin pun sangat sedikit sekitar 150 mcg/kgbb/6 bulan, atau  sekitar 6 mcg/ kgbb / minggu, sedangkan batas aman menurut WHO adalah jauh lebih tinggi  (159 mcg/ kgbb/ minggu). Oleh karena itu vaksin yang mengandung etil merkuri dosis sangat rendah dinyatakan aman oleh WHO dan badan-badan pengawasan lainnya.

Atas dasar itu, tidak ada negara yang melarang imunisasi, bahkansemua negara berusaha untuk memberikan imunisasi > 90 % bayi dan balita untuk mencegah wabah.  

Benarkah isu bahwa “semua zat kimia”  berbahaya bagi bayi ? 

Tidak benar. Isu itu beredar karena penulis buku, tabloid, milis, tidak memahami benar apa yang disebut “zat kimia”. Mereka tidak tahu bahwa oksigen, air, nasi, buah, sayur, jahe, kunyit, lengkuas, semua tersusun dari zat-zat kimia. Oksigen rumus kimianya O2, air H2O, garam NaCl. Buah dan sayur terdiri zat kimia selulosa, fruktosa, vitamin, mineral, dll. Telur terdiri dari zat kimia protein, asam amino, mineral.   Itu semua zat kimia, karena ada rumus kimianya, maka disebut biokimia.Jadi zat-zat kimia umumnya  justru sangat dibutuhkan untuk manusia,  asal bukan zat yang berbahaya atau dalam takaran yang aman. 

Benarkah isu bahwa imunisasi justru melemahkan kekebalan tubuh bayi dan anak ? 

Tidak benar. Kadar antibodi (zat kekebalan) bayi dan anak yang telah diimunisasi bila diukur terbukti jauh lebih tinggi daripada bayi anak yang tidak diimunisasi. Berarti imunisasi  justru merangsang dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh, agar sistem tersebut kelak mampu melawan kuman yang masuk ke dalam tubuh.

Benarkah isu bahwa vaksin terbuat dari nanah, dibiakkan di janin anjing, babi,  manusia yang sengaja digugurkan?

Tidak benar. Isu itu bersumber dari “ilmuwan”  50 – 60 tahun lalu (tahun 1961-1962). Teknologi pembuatan vaksin sudah lama  berkembang sangat pesat dan sangat jauh berbeda dengan pembuatan vaksin tahun 1950an. Tidak  ada lagi vaksin yang terbuat dari nanah atau dibiakkan embrio anjing, babi atau manusia.

Benarkah vaksin mengandung lemak babi ?

Tidak benar. Pada proses penyemaian induk bibit  vaksin tertentu 15 – 20 tahun lalu,  ketika proses panen bibit beberapa vaksin bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi induk bibit vaksin tersebut kemudian dicuci dan dibersihkan total dengan cara ultrafilterisasi ratusan kali, sehingga pada vaksin yang diberikan kepada bayi balita tidak mengandung tripsin babi. Hal ini dapat dibuktikan dengan pemeriksaan khusus. Oleh karena itusampai saat ini tidak ada negara yang melarang penggunaan vaksin.  Contoh : vaksin meningokokus  haji diwajibkan oleh pemerintah Saudi Arabia bagi semua jemaah haji untuk mencegah cacat dan kematian akibat radang otak karena meningokokus.

Benarkah vaksin untuk program  imunisasi di Indonesia buatan Amerika ?

Tidak benar. Semua vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah  buatan PT Biofarma Bandung, pabrik vaksin yang telah berpengalaman selama lebih 120 tahun. Proses penelitian dan pembuatannya mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin  WHO. 

Benarkah vaksin Program Imunisasi  di Indonesia buatan Pt Biofarma juga dipakai oleh 120 negara lain termasuk 36 negara Islam ?

Benar. Karena vaksin Pt Biofarma kualitasnya telah diakui oleh WHO dan banyak negara yang telah lama menggunakan vaksin pt Biofarma mengakui kualitasnya, maka vaksin-vaksin tersebut  dibeli dan digunakan oleh   126 negara lain, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam.

Benarkah isu program  imunisasi hanya di negara muslim dan miskin agar menjadi bangsa yang lemah?

Tidak benar. Imunisasi saat ini dilakukan di 194 negara, termasuk negara-negara maju  dengan status sosial ekonomi tinggi, dan negara-negara non-muslim.   Kalau imunisasi bisa melemahkan bangsa, maka semua negara-negara itu bangsanya akan lemah, karena mereka sampai sekarang  tetap melakukan program imunisasi, bahkan  lebih dulu, dan jenis vaksinnya lebih banyak.  Kenyataannya : bangsa dengan cakupan imunisasi lebih tinggijustru lebih kuat, jarang terjadi wabah, angka kematian lebih rendah. Bangsa dengan cakupan imunisasi rendah sering terjadi wabah, sakit berat, cacat dan kematian. Jadi terbukti bahwa imunisasi justru memperkuat kekebalan bangsa terhadap penyakit infeksi, bukan melemahkan.

Benarkah isu di buku, tabloid bahwa di Amerika banyak kematian bayi  akibat vaksin ?

Tidak benar. Isu itu karena penulis tidak faham data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) dari FDA (Food & Drug Agency, semacam Badan POM Indonesia) yang melaporkan bahwa di Amerika tahun 1991-1994 ada 38.787  kejadian ikutan pasca imunisasi. Angka tersebut adalah semua keluhan seperti: nyeri, gatal, merah, bengkak di bekas suntikan, demam, pusing, muntah dan gejala lain yang  rutin dicatat kalau ada laporan masuk. Bukan angka kematian akibat vaksin.Karena penulis buku / tabloid tidak mengerti makna adverse event following immunization(KIPI) maka  angka tersebut disebarkan sebagai angka kematian bayi 1 – 3 bulan.

Kalau benar angka kematian di AS akibat vaksin begitu tinggi,  tentu FDA AS akan heboh dan menghentikan imunisasi. Faktanya Amerika tidak pernah menghentikan imunisasi bahkan mempertahankan cakupan semua imunisasi di atas 90 %. Di Indonesia gejala ikutan pasca imunisasi juga dicatat dan dipantau oleh suatu badan yang disebut Komnas dan Komda KIPI (Komite Nasional dan Komite Daerah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)

Benarkah berita di media masa  bahwa banyak bayi balita cacat atau meninggal  akibat imunisasi di Indonesia ?

Tidak benar. Isu ini beredar di media masa karena wartawan seringkali menyimpulkan sendiritanpa konfirmasi kepada profesi yang kompeten. Untuk menyimpulkan hubungan sebab akibat dalam profesi kedokteran tidak bisa disimpulkan oleh 1-2 orang hanya berdasarkan prakiraan semata, tetapi harus dikaji oleh suatu tim ahli berdasarkan informasi yang lengkap : keterangan keluarga, petugas kesehatan yang memberikan imunisasi, dokter yang merawat di rumah sakit, gejala yang timbul, jarak waktu timbulnya gejala, perkembangan gejala, hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah, cairan otak, Rontgen,  otopsi dll.   Kemudian dikaji oleh Komnas / Komda KIPI yang terdiri dari sekelompok pakar penyakit infeksi, imunisasi, imunologi,mikrobiologi, epidemiologi dll.  Tidak dapat  disimpulkan oleh 1 – 2 orang dengan prakiraan-prakiraan saja.

Apa penyebab cacat atau kematian beberapa anak yang diberitakan oleh media masa ?

Setelah dianalisis oleh sekelompok tim ahli dari Fakultas Kedokteran berdasarkan informasi yang lengkap termasuk pemeriksaan fisik, hasil laboratorium darah, cairan otak, Roentgen dan otopsi (bedah mayat)maka beberapa anak tersebut  tersebut cacat atau meninggal bukan karena imunisiasi tetapi karena penyakit lain : tuberkulosis tulang belakang, radang otak, perdarahan otak, atau penyakit lain yang terjadi bersamaan dengan imunisasi.

Demam, bengkak, nyeri, kemerahan setelah imunisasi membuktikan bahwa vaksin berbahaya ?

Tidak benar. Demam, nyeri, kemerahan, bengkak, gatal di bekas suntikan adalah reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Seperti rasa pedas dan berkeringat setelah makan sambal adalah reaksi normal tubuh kita. Umumnya keluhan tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat penurun panas, dikompres. Bila perlu dibawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat untuk diperiksa dan mendapat  pengobatan.

Benarkah  isu  di tabloid, milis, bahwa  program imunisasi gagal di banyak negara?

Tidak benar. Isu-isu tersebut bersumber dari data yang sangat kuno (50  – 150 tahun  lalu) hanya dari 1 – 2 negara saja, sehingga hasilnya sangat berbeda  dengan hasil penelitian terbaru, karena jenis vaksin dan teknologi cara pembuatannya  sangat berbeda. Contoh : Isu imunisasi cacar variola gagal,  berdasarkan data di Inggeris tahun 1867 – 1880 dan Jepang tahun 1872-1892 (sangat kuno).  Fakta terbaru sangat berbeda, bahwa dengan imunisasi cacar variola  di seluruh dunia sejak tahun 1980  seluruh dunia bebas cacar variola, Isu imunisasi difteri gagal, berdasarkan data di Jerman tahun 1939. Fakta sampai sekarang  vaksin difteri dipakai di seluruh dunia dan terbukti mampu menurunkan kasus difteri  sebanyak 95 %. Isu imunisasi pertusis gagal hanya dari data di Kansas dan Nova Scottia tahun 1986. Faktanya sampai sekarang vaksin pertusis dipakai di seluruh dunia dan berhasil menurunkan kasus pertusis lebih dari 80%. Isu imuniasi campak berbahaya hanya berdasar penelitian 1989-1991 pada anak miskin berkulit hitam di Meksiko, Haiti dan Afrika. Faktanya sampai sekarang vaksin campak dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan jumlah kasus campak 68 – 90 %.

Benarkah isu “ program imunisasi  gagal”  karena masih banyak penyakit menular walaupun sudah sejak lama ada program  imunisasi rutin ?

Tidak benar, karena tidak semua penyakit menular dapat dicegah dengan imunisasi.Sementara ini imunisasi bisa mencegah penyakit: hepatitis A,B,  tuberkulosis, polio, difteri, pertusis, tetanus, radang paru, radang otak, diare berat rotavirus, campak berat, influenza, cacar air, demam tifoid, radang otak meningokokus dan kanker leher rahim. Dengan program imunisasi yang telah dilaksanakan selama ini maka wabah, sakit berat, cacat dan kematian akibat penyakit tersebut terbukti menurun dengan nyata.                                                                 Beberapa penyakit lain memang belum dapat dicegah dengan imunisasi antara lain : demam berdarah dengue, malaria, HIV,  meningitis virus dll. Pencegahannya antara lain dengan ASI, makanan bergizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, rumah, lingkungan, air bersih untuk memasak, minum dan mandi dan pengobatan segera.                    

Benarkah isu “program imunisasi gagal”, karena setelah diimunisasi bayi balita masih bisa tertular penyakit tersebut ?

Tidak benar program imunisasi gagal, karena perlindungan vaksin memang tidak 100 %. Bayi dan balita yang telah diimunisasi masih bisa tertular penyakit tersebut, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Sedangkan bayi  balita yang belum diimunisasi lengkap bila tertular penyakit tersebut bisa sakit berat, cacat atau meninggal.

Benarkah imunisasi  bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat dan kematian bayi dan balita?

Benar.  Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa : dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna.  Oleh karena itu saat  ini program imunisasi dilakukan terus menerus dilakukan di 194 negara, di negara-negara dengan sosial ekonomi tinggi maupun rendah.  Semua negara berusaha meningkatkan cakupan agar lebih dari 90 %. Di Indonesia, terjadi wabah polio 2005-2006 karena banyak bayi yang tidak diimunisasi polio, maka  menyebabkan 351 anak lumpuh permanen. Setelah digencarkan imunisasi polio terus menerus , sampai saat ini tidak ada lagi kasus polio baru. Demikian pula penurunan berbagai penyakit lain (difteri, tetanus, pertusis, hepatitis B, campak dll) di Indonesia dan di negara-negara lain

Kalau penyakitnya sudah jarang, tidak perlu imunisasi ?

Tetap perlu imunisasi agar cakupan tetap tinggi. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi  menjadi sangat berkurangkarena keberhasilan cakupan imunisasi yang tinggi (lebih dari 80 – 90 persen bayi balita diimunisasi), sehingga penularan terhenti, tidak dapat berkembang biak, tidak terjadi wabah. Kalau kemudian banyak bayi balita tidak diimunisasi, maka penyakit tersebut akan mewabah lagi dengan cepat menimbulkan cacat atau kematian.

Contoh : penyakit Polio, karena lebih 90 % bayi balita diimunisasi maka sejak tahun 2002 sampai 2005 tidak ada lagi di Indonesia. Tetapi kemudian  banyak bayi yang lahir sesudah tahun 2002 tidak diimunisai polio maka pada tahun 2005 terjadi wabah polio dari Sukabumi menyebar ke Banten, Lampung, Jawa Tengah, Maduraperiode  sejak tahun 1990 – 2000an cakupan imunisasi DPT lebih dari 80 %, maka sangat jarang penyakit difteri. Sejak tahun 2004 banyak orangtua tidak mau bayinya diimunisasi, maka sejak 2008 sampai 2013 terjadi  wabah difteri yang mengakibatkan 1798  bayi dan anak di rawat di RS dan 94 meninggal.

Bagaimana orangtua harus bersikap terhadap isu-isu yang menyesatkan tersebut ?

Sebaiknya semua bayi dan balita di imunisasi secara teratur dan  lengkap. Saat ini 194 negara di seluruh dunia yakin bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat dan kematian. Terbukti negara- negara tersebut terus menerus melaksanakanprogram imunisasi, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan cakupan umumnya lebih dari 85 %.

Badan penelitian di berbagai negara membuktikan kalau semakin banyak bayi balita tidak diimunisasi akan terjadi wabah, sakit berat, cacat atau mati, dan telah terbukti di Indonesia : wabah penyakit polio di Jawa Barat tahun 2005-2006 (351 anak lumpuh permanen), wabah campak dibeberapa propinsi tahun 2009 – 2010 (5818 anak dirawat di rumah sakit, meninggal 16), wabah difteri di Jawa Timur tahun 2010- Mei 2012 (1789 anak di rawat di rumah sakit, 94 meninggal).

Bisakah  ASI, gizi, suplemen herbal  menggantikan imunisasi ?

Tidak bisa. Tidak ada penelitian sahihyang menyatakan imunisasi bisa digantikan oleh  ASI, gizi, suplemen herbal, karena kekebalan yang dibentuk imunisasi sangat spesifik. ASI, gizi, suplemen herbal, kebersihan akan memperkuat pertahanan tubuh secara umum, namun  tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu yang berbahaya. Kalau  jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih bisa sakit berat, cacat atau mati.

Buktinya semua negara kaya dengan gizi baik dan lingkungan bersih tetap melakukan program imunisasi dengan cakupan lebih dari 85 % bayi balita.

Imunisasi akan merangsang pembentukan kekebalan yang spesifik  terhadap kuman, virus atau racun kuman tertentu. Kekebalan spesifik  bekerja lebih cepat, effektif dan effisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya.

Bolehkah selain diberikan imunisasi, ditambah dengan suplemen gizi  dan lain-lain? 

Boleh. Selain diberi imunisasi, bayi tetap diberi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan,  dan lingkungan. Suplemen dapat diberikan sesuai kebutuhan individual yang bervariasi. Selain itu bayi harus mendapat perhatian dan kasih sayang dan stimulasi bermain untuk mengembangkan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku yang baik. 

Benarkah bayi dan balita yang TIDAK DI IMUNISASI LENGKAP  rawan tertular penyakit berbahaya? 

Benar. Banyak penelitian imunologi dan epidemiologi di berbagai negara membuktikan bahwa bayi balita yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan spesifik yang memadai terhadap penyakit-penyakit menular berbahaya.  Mereka mudah tertular penyakit tersebut, akan menderita sakit berat, menularkan ke anak-anak lain, menyebar luas, terjadi wabah, menyebabkan banyak kematian dan cacat. 

Benarkah wabah akan terjadi bila banyak bayi dan balita tidak diimunisasi  ?

Benar. Itu sudah terbukti di Asia, Afrika, bahkan  Eropa dan Amerika, termasuk  di Indonesia.

Contoh : wabah polio 2005-2006 di Sukabumi karena banyak bayi balita tidak diimunisasi polio, dalam beberapa bulan  virus polio menyebar cepat ke Banten, Lampung, Madura, sampai Aceh, menyebabkan 351 anak lumpuh permanen.

Wabah campak di Jawa Tengah dan Jawa Barat  2009-2011 mengakibatkan  5818 anak di rawat di rumah sakit, 16 anak  meninggal, terutama yang tidak diimunisasi campak.

Wabah difteri dari Jawa Timur menyebar ke Kalimantan Timur, Selatan, Tengah, Barat, DKI Jakarta, tahun 2009 – Mei 2012 menyebabkan 1789 anak di rawat di rumah sakit, 94 meninggal terutama yang imunisasinya belum lengkap atau belum pernah imunisasi DPT.

Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi

  • Sekretaris Satgas Imunisasi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
  • Anggota Indonesia Technical Advisory Group for Immunization(ITAGI)
  • Ketua Divisi Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI, RSCM
  • Anggota tim peneliti vaksin Dengue, Pentavalen dan Influenza

Untuk mencegah penularan penyakit, wabah, sakit berat, cacat dan kematian bayi- balita kita, mari segera kita lengkapi imunisasi bayi - balita kita

(disampaikan pada Seminar Imunisasi dalam rangka Milad RSIJ Cempaka Putih ke-43, di Auditorium RSIJ Cempaka Putih - Sabtu, 7 Juni 2014)

 

 

Share

Tagged under

Klinik Vaksin RS Islam Jakarta Cempaka Putih

Alamat

Rumah Sakit Islam Jakarta CP

Jl. Cempaka Putih Tengah I / 1

Jakarta Pusat - Indonesia 10510

Telephone

  • +62-21 425-0451
  • +62-21 428-01567
  • Fax +62-21 420-6681
  • Pendaftaran Rawat Jalan
    1. Khusus BPJS 0812 8896 9622 (Hanya WA)

    2. Pasien Umum, Jaminan Perusahaan dan Asuransi 0812 1349 1516 (Hanya WA) 

    3. Ext. 6507

    Khusus pasien yang telah memiliki no Rekam Medik (No. RM)

Email

  • rsijpusat@rsi.co.id

Statistik Web

Today2570
This week9019
This month30283
Total3437566

Who Is Online

10
Online

Copyright © 2018. Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih

Powered by inisial dotcom

X

Right Click

No right click